Tipologi Majelis
Tipologi Majelis Sering kali kritik lahir berawal dari komunikasi yang tidak tuning akibat kita tidak peduli minat orang lain. Di gereja, susah kita membicarakan rencana pelayanan jangka panjang jika lawan bicara kita lebih berminat pada “whatever will be will be.” Sama susahnya bila mendiskusikan lagu kontemporer dengan orang yang minatnya hanya ada di lagu himne. Bagus jika ia hanya senyam-senyum ketawa-ketiwi. Tapi kalau ia ngotot mengungkapkan minatnya juga, dan kita juga tidak mau kalah ngototnya, maka udara akan dipenuhi benturan-benturan gaib yang bila frekwensi dan amplitudonya makin tinggi akan menciptakan virus penyakit. Bila ketidaksamaan minat ini menyebabkan pertengkaran, maka muncullah penilaian pribadi yang menusuk. “Dia itu memang kuno tidak bisa mengikuti perubahan jaman. Susah deh omong sama orang yang sudah expired.” Di pihak lain orang yang diam-diam kita kata-katai itu juga jengkel. “Dia itu sembrono, mau enaknya sendiri, tidak tau aturan. Sarjana kok...